On Behalf of Sipil UII ’03

Usulan Sepatu Khusus untuk Evakuasi Gunung Merapi

Sempat melihat dan mendengar salah satu tim relawan yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta bahwa sepatu yang diperlukan untuk evakuasi korban letusan Gunung Merapi dan yang masih tertinggal di sekitar lereng Gunung Merapi.  Alas sepatu yang digunakan oleh tim relawan pun tidak luput leleh akibat panasnya suhu sekitar. Usulan dari tim relawan tersebut bahwa membutuhkan sepatu khusus yang aman seperti sepatu-sepatu yang digunakan di pertambangan (safety shoes).

Saya mencoba mengusulkan melalui blog ini yaitu sepatu separti dibawah ini:

Tampak Depan

Tampak Depan

Tampak Samping

Tampak Samping

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Informasi:

Penetration resistance (1100 Newtons)

Non metallics insert (Max 1 mm nail penetration)

Heat resistant outsole (300 deg ‘C)

 

Semoga dapat membantu tim relawan untuk mengevakuasi korban letusan Gunung Merapi.

Karakteristik Kepemimpinan Mbah Maridjan

(Alm) Mbah Maridjan

Kepemimpinan Mbah Maridjan (alm) dalam mengemban tugas juru kunci Gunung Merapi bisa menjadi suri teladan yang baik dimana Mbah Maridjan memegang teguh amanat yang diberikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.  Sesosok pemimpin yang memiliki jiwa religious dalam menjaga alam dan mengayomi mayarakat sekitar.  Kesederhanaan dalam memimpin khususnya sebagai juru kunci Gunung Merapi menunjukkan karakter-karakter yang unggul, disamping itu sikap loyalitas dalam memimpin tanpa pamrih sangat bisa diacungi jempol.  Sikap rela berkorban sebagai juru kunci, almarhum Mbah Maridjan ditunjukkan dalam menghimbau masyarakat sekitar untuk segera mengungsi dan jangan mengikuti jejaknya untuk tetap tinggal di lereng Gunung Merapi karena almarhum harus tetap berada dirumah untuk menjaga amanat sebagai juru kunci bahkan setiap Gunung Merapi akan meletus, warga senantiasa menunggu komando dari beliau untuk mengungsi.

 

Alm. Mbah Maridjan yang memiliki nama asli Mas Penewu Surakso Hargo serta memiliki gelar dengan nama Raden Ngabehi Surakso Hargolahir di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman pada tahun 1927.  Beliau mulai menjabat sebagai wakil juru kunci Gunung Merapi pada tahun 1970 dan pada tahun 1982 jabatan sebagai juru kunci beliau sandang.  Saat Gunung Merapi meletus tanggal 26 Oktober 2010, Mbah Maridjan telah meninggalkan kita selama-lamanya.  Almarhum meninggal dengan posisi sujud di rumah tinggalnya di Dukuh Kinahrejo.

Semasa hidupnya, Mbah Maridjan selalu mengedapankan kesejahteraan masyarakat desa walaupun Mbah Maridjan pernah menjadi icon produk minuman energi, Mbah Maridjan tidak suka menunjukkan bahwa dirinya telah sukses bahkan sebagaian harta dari Mbah maridjan diperuntukkan untuk masyarakat sekitarnya.  Interaksi-interaksi intensif dengan masyarakat sekitar, Mbah Maridjan dibangun atas hati nurani sehingga sikap kepemimpinan memegang budi pekerti luhur, etika dan sopan santun sangat dijaga.  Hal yang paling penting dari sikap ini, Mbah Maridjan selalu mendengarkan saran dan kritik dari masyarakat.  Profil yang bersahaja dan anggun menjadikan sesosok Mbah Maridjan sangat disegani.

7 OKTOBER HARI ULANG TAHUN KOTA YOGYAKARTA

Sekitar 1500 orang dari berbagai komponen masyarakat Yogyakarta akan ikut ambil bagian dalam Pawai Mozaik Yogyakarta pada hari Kamis  tgl 7 Oktober 2010 bertepatan dengan hari jadi kota Jogja ke 254.

Pawai Mozaik Yogyakarta start dari Alun alun Utara menuju Balaikota Yogyakarta mengakomodir  banyaknya komponen masyarakat Yogyakarta dan menampilkan ekspresi dan identitas masing masing kelompok antara lain kelompok Drumband, TNI,Polri,Pelajar, atlet,komunitas profesi, komunitas hobby dan dari kelompok pejabat pemerintahan.Pemberangkatan peserta pawai dari Alun alun utara akan dilakukan Wakil Walikota Bp Haryadi Suyuti dan Komandan Kodim  Kota Yogyakarta Letkol Arudji Anwar.Kemeriahan hari ulang tahun kota Yogyakarta ke 254 di Alun alun utara akan diwarnai pula dengan terjun payung oleh kelompok penerjun TNI Ankatan Udara yang akan membawa bendera TNI dan bendera pemerintah kota Yogyakarta.Kepada para peserta pawai diharapkan melakukan registrasi dan persiapan di Alun alun sekitar pukul 13.00 wib dan sekitar pukul 14.30 wib pawai akan diberangkatkan menuju Balaikota dengan mengambil rute melewati jl.Koni, Jl.Senopati, Jl Sultan Agung,Jl Kusuma Negara dan berakhir di Balikota yang akan diterim oleh Walikota Yogyakarta bp Herry Zudianto dan para undangan.Untuk kelancaran jalannya Pawai Mozaik pihak kepolisisian akan melakukan penutupan jalan dan Filterisasi jalan jalan yang menuju ke rute yang akan dilalui peserta pawai.

Kemeriahan peringatan kota Yogyakarta di Balaikota akan ditampilkan Sendratari Adeging Kitha Ngayogyakarta.Sendratari akan mengambil spirit boyongan Sri Sultan Hamengkubuwana I yang dipakai sebagai tetenger berdirinya Kota Yogyakarta dengan judul “Boyongan Mangkubumi” Selain itu di halaman Balaikota juga akan diakukan pesta rakyat acara Panjat Pinang .Panitya hut kota menyiapkan 45 batang pinang mewakili komponen 45 kelurahan se kota Yogyakarta dan ini mempunyai makna filosofi yang dalam.Selain sebagai simbol sangkan paraning dumadi dengan wujud lingga yoninya, panjat pinang juga penggambaran Habuminallah dengan upaya peserta yang selalu memanjat ke atas sebagai wujud hubungan vertikal dengan Sang Pencipta dan Hublumminanas yang terwujud dari upaya mereka mencapai puncak pinang dengan tuntunan bekerja sama dengan sesamanya.Pada pelaksanaan panjat pinang setiap kelurahan akan mengirim 3 kelompok dan masing masing terdiri atas 5 orang untuk memperebutkan hadiah di puncak batang pohon pinang.Bagi para camat dan lurah juga disediakan 2 batang pohon pinang untuk kelompok bapak bapak dan ibu ibu camat dan lurah.

Pada peringatan hari jadi kota Jogja ke 254 walikota Yogyakarta menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk ikut menyemarakkan wilayahnya dan lingkungan kantor dengan memasang lampion , dan umbul umbul.Masyarakat diberi kebebasan dalam berkreasi membuat lampion dan menghias wilayahnya mulai tgl 1 s/d 17 Oktober 2010.Pada  tgl 7 Oktober diharapkan masyarakat memakai busana Jawa Gaya Yogyakarta atau bagian atributnya termasuk dalam proses pelayanan publik untuk menumbuhkan kecintaan terhadap kota Jogja.

Menjelang peringatan hut kota  pada malam harinya  yakni pada hari Rabu tgl 6 Oktober 2010 pukul 22.00 wib bagi para pecinta dan komunitas sepeda dapat ikut ambil bagian dalam acara Night Ride, sepedaku, Jogjaku di malam hari. Peserta seluruh warga Jogja di 45 kelurahan mengambil start dari 45 kelurahan menuju meeting point yakni :

Wilayah Utara : SMK 2 Yogyakarta

Wilayah Selatan : Parkir Mc Donald Jl Sudirman

Wilayah Selatan : Hotel Toegoe / Kedaung

Wilayah Barat : Kecamatan Jetis.

Bersepeda di malam hari ini akan berakhir di Monumen Tugu tepat pukul 00.00 wib. Acara di Monumen Tugu tepat dengan pergantian waktu dan  menandai hari jadi kota Jogja ke 254 akan dipimpin  oleh Walikota Yogyakarta bp Herry Zudianto.

Dirgahayu kota Yogyakarta ke 254.

Yogyakarta, 5 Oktober 2010
Media Centre
Koordinator

Nunuk Parwati

URUTAN PESERTA PAWAI MOZAIK YOGYAKARTA

1. Drumband /PDBI Kota Yogyakarta
2. Pembawa bendera / penghargaan
3. Paskibraka
4. 403
5. 1 SSK Gab Kav, Lanal,Kodim
6. 1 SSK Lanud
7. Brimob
8. Samapta
9. Lurah dan Camat
10. Dintip
11. FKPPI
12. Linmas
13. Pramuka
14. BLH
15. Tonti
16. Drumband SMU Muhamadiyah 6
17. Menwa
18. Barisan pelaku Pariwisata
19. Brajamusti
20. Faki
21. KNPI
22. Komunitas Malioboro
23. Pengamen Calung
24. Pedagang Pasar
25. Kelompok Poco poco
26. Becak
27. Drumband Pandu HW
28. IKPMD
29. Tapak Suci
30. Sepeda Esia
31. Panser dari Kaveleri 2
32. Baracuda (Polda)
33. APC Brimbom
34. Randeod (Brimob)
35. Water canon
36. JAC
37. PJR

source : http://www.jogjajavacarnival.com

Soto Sulung Kidul Stasiun Tugu

Salah Satu Sudut Ruangan Warung Soto Sulung

Salah Satu Sudut Ruangan Warung Soto Sulung

Satu lagi kuliner di Jogjakarta…Soto Sulung!! Masakan khas dari Pulau Madura ini dapat Anda nikmati di warung yang berada di halaman parkir selatan Stasiun Tugu Jogjakarta Baca lebih lanjut

Perjalanan Melelahkan….Jogja-Salaman (Candi Borobudur) PP

 
 

 

  

Penunjuk Arah

 

Wuiih…perjalanan Jogja-Salaman (Candi Borobudur) kali ini sangat melelahkan.  Perjalanan yang hampir sering lakukan sewaktu masa mahasiswa dari Yogyakarta menuju Salaman (Kecamatan setelah Candi Borobudur) sewajarnya ditempuh dalam waktu lebih kurang 1 jam tetapi kali ini sangat melelahkan.  Waktu tempuh yang biasanya hanya 1 jam tetapi kali ini bisa mencapai 3 s/d 5 jam.

 

  Baca lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.